Home » » Stasiun Gubeng Sumber Kehidupan

Stasiun Gubeng Sumber Kehidupan

Stasiun Gubeng ataupun tempat umum lainnya yang memiliki mobiltas tinggi seperti terminal dan pasar bisa dijadikan sumber kehidupan. Salah satu langkahnya adalah dengan berjualan apapun asal tidak melanggar undang-undang. Stasiun Gubeng sendiri pada pagi sampai malam menjelang isya' tidak pernah sepi dari penumpang karena jadwal keberangkatan kereta api. Banyak pedagang mencoba menjajakan dagangannya untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Seperti penjual koran, pedagang pentol dan bakso dorong. Tulisan ini akan menceritakan tentang seorang penjual koran di Stasiun Gubeng yang sangat gigih memperjuangkan keluarganya.


Dari semua pedagang yang saya sebutkan diatas, yang paling mencolok dilihat mata adalah penjual koran distasiun gubeng baru. Namanya mas Mansur (saya samarkan) umur kisaran 37 tahun dengan ciri utama (maaf) ketika berjalan agak tertatih-tatih karena ada masalah permanen di kaki kanannya (saya tidak enak mengambil fotonya). Seperti orang yang terkena polio tapi tidak ada kelainan di kaki kanannya, ngomongnya juga sudah tidak jelas seperti orang pasca kena stroke yang kesulitan berbicara. Itulah pandangan sekilas tentang mas mansur ini, hingga akirnya kini aku mengenalnya lebih dekat.

Perkenalan tidak sengaja itu berawal ketika saya duduk sambil meunggu kedatangan kereta di peron stasiun gubeng baru di sore hari (karena pulang kerja). Mas mansur ini melambaikan tangan kearah saya. Tiga kali beliau melambaikan tangan kearah saya, saya tidak ngeh dengan lambaiannya. Karena saya belum kenal dengan beliau mungkin hanya wajahnya saja yang familiar. Kemudian berjalan kearah saya dan dengan suara terbata-bata ngomong kalau nanti kalau pulang ke mojokerto numpang dari stasiun ke terminal. Tadi pagi waktu berangkat beliau kesiangan sehingga ketinggalan kereta dan akirnya naik bus. Jarak terminal ke stasiun mojokerto sekitar 3 km lumayan jauh jika jalan kaki sendirian di malam hari ditambah cara berjalan yang tertatih-tatih. Dan ah...kereta api krd jurusan terakhir kertosono mengalami keterlambatan, baru berangkat pukul 19.00 WIB dari jadwal biasanya 17.25 WIB. Sampai stasiun mojokerto pukul 20.05 WIB.

Dalam perjalanan dari stasiun mojokerto ke terminal mojokerto beliau banyak bercerita tentang kehidupannya. Mulai dari masa kecil sampai dia menikah kemudian dikaruniai seorang anak laki-laki berumur 4 tahun. Kehidupan masa kecilnya tidak seperti anak kecil lainnya, karena termasuk dalam keluarga sangat tidak mampu. Bisa makan makanan yang normal saja sudah bersyukur. Kebanyakan waktu kecilnya makan makanan sisa dari restoran atau penjual nasi goreng. Makanan sisa restoran itu pun bukan satu menu, melainkan diaduk jadi satu asal tersedia satu piring penuh. Lauk terbaiknya adalah dengan tempe atau tahu goreng dengan sambal dan kerupuk. Bahkan pernah mengkonsumsi makanan yang mengandung babi, karena jatah sisa makanan dari restoran ada kandungan babinya. Mengkonsumsi makanan "tidak sehat" atau berlemak menjadi menu sehari-hari hingga beliau menikah. Saat umur 26 tahun beliau terkena stroke yang menyerang kaki kanan, kendang telinga dan mulutnya. Beliau berobat di RSU dokter soetomo surabaya dengan bekal surat dari kelurahan. Setelah berobat dari dokter soetomo dilanjut ke pengobatan alternatif. Terhitung sudah 11 tahun beliau menjalani hidup pasca stroke dari umur 26 tahun sampai sekarang 37 tahun.

Beliau sangat bersyukur karena masih bisa diberi keturunan pasca terkena stroke tadi. Dulu sebelum jualan koran beliau sempat ngamen dan menjadi ob di sebuah stasiun radio di surabaya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Beliau anti dengan yang namanya meminta-minta untuk mengharapkan belas kasihan dan juga tidak mau menjual keadaannya untuk memancing iba orang lain. Sedangkan untuk menambah penghasilan keluarga istrinya juga bekerja.

Tiap hari selain hari minggu beliau berjualan koran (jawapos, surya, kompas dan tabloid). Walaupun berjualan koran, tetap mengandung resiko tidak laku, sebab koran yang tidak laku tidak boleh dikembalikan ke agen yang menyetorinya. Solusinya dititipkan ke temannya untuk dijualkan dengan harga yang berkurang atau dijual banting harga. Keuntungan dari menjual koran tersebut tidak kurang dari 40 ribu rupiah perharinya. Hati saya sempat tersentuh, dapat 40 ribu sudah bersyukur sedangkan saya masih kurang apa yang aku capai selama ini. Sungguh pelajaran berharga tentang kehidupan. Penghasilan sejumlah itu memang tidak cukup bagi matematika kita, sedangkan matematika Allah ya cukup-cukup saja. Bahkan kini beliau sudah memilik rumah di perumahan dan sebuah sepeda motor. Kini beliau menjadikan stasiun gubeng sebagai sumber kehidupannya.

24 komentar:

  1. Saat di stasiun Guben, saya seringnya mepet jam KA berangkat.

    Tapi faktanya mmg banyak pelajaran yg bisa kita dapat saat kita meluangkan waktu utk melihat, mengamati dan meresapi org2 yg mencari nafkah di tempat2 spt stasiun, terminal,

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak , mereka pejuang dan pahlawan bagi keluarganya.
      terima kasih kunjungannya, setelah sekian lama menikmati masa2 setelah menikah :D

      Delete
  2. slalu miris melihat kehidupan ini... intinya hidup cuma dua: sabar dan syukur (al iman: nisfu fissobri nisfu fissyukri)

    *sekian ceramah kali ini :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduh jadi adem dapat ceramah dari bu nyai :D
      denger ceramah sambil makan tahu goreng boleh gak ?

      Delete
    2. belum jadi mama, tapi masih teteh :D hehe

      Delete
  3. Oalah, cah suroboyo toh. Soto Gubeng ijih ora?

    ReplyDelete
  4. lha dalah...wong mojokerto sing makaryo ono suroboyo iki mbak.
    soto gubeng tetep berdiri kokoh , :D

    ReplyDelete
  5. mngngkat sesuatu hal yg hrus d kthui orng bnyk , nice gan ..

    ReplyDelete
  6. Semua demi keluarga..semoga bapak penjual koran di atas..selalu mendapatkan keberkahn dalam hidupnya,,,semoga juga bisa mengambil hikmah dari untaian kata Mas Agus Setya ;) Terimakasih mas Agus

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin, tadi pagi aku bareng mas nya tadi dan beliau selalu ceria :)

      Delete
  7. .. kok pas jepret fotonya gak aq ya?!? he..86x ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi...lha mbak vpie pas gak disitu e , nanti nek pas jepret lagi tak kabari dan biar mbak vpie bisa lewat depan kamera. hehehe

      Delete
  8. 40 ribu perhari sudah lumayan besar mas bagi saya, ya berapapun hasilnya harus tetap disyukuri...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas yang penting bersyukur, itu intinya hidup

      Delete
  9. selamat pagi sobat blogger
    meskipun rumah ane gak jauh dari stasiun gubeng, ane belum pernah ke sana #hahaha

    rumaha ane daerah banyuwangi, bagian selatan. dekat pantai G-Land

    ReplyDelete
    Replies
    1. selamat pagi juga mas royan, kok lama tidak menyentuh blog, apa karena lagi uas ya ?
      salam pergerakan :D

      Delete
  10. pelajaran kehidupan bisa kita dapet dengan melihat orang di sekitar kita.. di stasiun, di terminal, di pasar dll... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sippp mas, tinggal kita buka mata buka telinga :D

      Delete
  11. pwnuh dengan calo. he he he. seperti bumgur

    ReplyDelete
    Replies
    1. terakhir kapan mas ke stasiun gubeng?sekarang gerak calo dipersempit dengan adanya tiket sesuai dengan nama ktp dan harus menunjukkan ktp, tiketnya bisa dipesan h-7 mas.
      hehe salam

      Delete
    2. y gan,,,!
      tiket kerata api sudah teratus ,,sesuai dengan tempat duduk jadi ,,walaupun datang belakangan kalau dapat tiket pasti duduk gag bakalan berdiri,,heheh ( ekonomi)

      jika tiket habis bis apesen tiket untuk hari besoknya,,,!

      Delete
    3. betul sekali mas bayu, terima kasih sudah menambahkan

      Delete

Silakan Tinggalkan Komentar Sesuka Hati, Bebas
Link Hidup ? Jangan Deh

Blog Archive