Home » » Cak Durasim : Pagupon Omahe Doro, Melok Nippon Tambah Soro

Cak Durasim : Pagupon Omahe Doro, Melok Nippon Tambah Soro

Cak Durasim seniman ludruk tempo dulu sangat populer di kalangan masyarakat Surabaya pada masa Indonesia sebelum merdeka (1937). Cak Durasim ini asli Jombang Jawa Timur yang juga merupakan pejuang kemerdekaan melalui seni ludruk. Beberapa pentas ludruknya selalu mengangkat tokok tentang pejuang dan perjuangan masyarakat jawa timur melawan penjajahan belanda.

Dengan ludruk juga, beliau membangkitkan semangat juang pemuda surabaya sekaligus mengkritik pemerintahan kolonial Belanda. Belanda menjajah Indonesia (kolonial) sekitar 3,5 abad disambung dengan di jajah jepang 3,5 tahun. Akan tetapi lebih sengsara di jajah jepang dari pada di jajah belanda. Saat pementasan ludruk (1942) peralihan jaman belanda ke jepang beliau mengkritisi dengan nembang ludruk : Pagupon Omahe Doro, Melok Nippon Tambah Soro. Artinya Pagupon rumahnya burung dara, ikut nippon (jepang) tambah sengsara. Beliau langsung di amankan oleh pihak jepang dan dipenjara. Di dalam penjara, Cak Durasim di siksa hingga meninggal di dalam penjara.

Realita Sekarang

Untuk cerita sejarah tentang Cak Durasim ini saya hanya tahu sedikit hal tentang sepak terjang beliau. Tapi karya seni yang dihasilkan masih sangat relevan dengan keadaan sekarang. Sudah 68 tahun Indonesia merdeka dan berdaulat penuh mengatur pemerintahannya. Realita pagupon omahe doro itu kini sangat nampak sekali.

Coba kalau lagi ada waktu, tengoklah sawah-sawah yang di jadikan perumahan oleh para pengembang. Perumahan bertipe minimalis, persis seperti rumahnya burung dara. Juga di kost kostan yang berlabel "rumah tangga" artinya kost untuk rumah tangga, betapa mereka seperti burung dara, yang datang dan pergi kemudian kembali lagi ke sarangnya "pagupon". Jauh dari kata merdeka bukan?.

Cak Durasim dan Pagupon Omahe doro, melok nippon tambah soro memang kenyataan sejarah. Dimana nama cak durasim sendiri dijadikan nama gedung kesenian "cak durasim" di jalan Genteng kali belakangnya Siola sebagai bentuk pengahargaan kepada beliau.


72 komentar:

  1. ooo...negaramu umur merdekanya udah 68 tahun ya.....udah punya cucu dong.

    seniman yang juga telah turut berjuang dibidangnya pada jamannya...PAST anak keturunannya ngga pernah diperhatikan oleh dinas dan instansi terkait...(minimal sebagai balas jasa, manusia jaman sekarang terhadap pendahuluny dibidang seni...gituh).

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga saja ada yang mempehatikan keturunananya, minimal di kasih bea siswa sampai s3. amiin.
      negaraku negaramu juga kan kang ?

      Delete
    2. negara kita tepatnya....hahaha

      remuk,ora tambah sumringah malah tambah bubrah ra genah

      Delete
    3. sopo seng ra genah bang? yang paling atas itu ya..wkwkwk

      Delete
    4. mesem dalam keheningan dan kebubrahan...
      iseh enak jamanku to le?

      Delete
    5. itu rajanya ra genah mas...hahaha

      Delete
    6. lahirnya seh hiyah....tapi bathin saya menolaknya kang....maaf ya

      Delete
    7. saya memaafkan deh, soalnya ada ubi cilembu satu karungnya sih

      Delete
    8. pahlawan sejati kan ga pernah mikirin balas jasa mang
      kecuali pejuang paha lawan itu mah jasa mulu yang dipikirin...

      Delete
    9. kalau paha lawan itu memang jasa yang di cari...

      Delete
  2. sebenarnya ini siklus sejarah yang berulang...atau dari dulu memang belum berputar dan masih jumud tetap sama seperti dulu ga ada kemajuan ya mas ??
    toh masih gitu2 juga kan hampir sama, pas dijajah ataupun setelah merdeka

    ReplyDelete
    Replies
    1. di jajah, merdeka kemudian penjajah kembali lagi dengan cara yang berbeda.
      kira kira begitu mas ws.

      Delete
  3. ha iyaaa, saya lama nggak denger lagi gaung Cak Durasim dan kesenian ludruk pada umumnya. kangeen banget, nggak pernah muncul lagi di tivi. coba kalo orang2 KPK pada bikin ludruk, pasti laku ya Mas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau Cak Budi Sinichi kemana lagi ya mas ? tidak nongol lagi. hehehe.
      masih ada tapi sudah mau hilang lagi, ludruk kartolo, mas. hehehe
      saya yang nabuh gong nya aja deh mas. hehehehe

      Delete
    2. yang jelas KPK kita lah.. KPK kita kan keren...hehehe

      saya bagian tarik selambu Mas.

      Delete
    3. Hebat.....maem klepon tiap hari

      Delete
    4. tiap hari bisa kloloten mbak

      Delete
    5. kloloten klepon tiap hari ? waaaw...

      Delete
    6. ludruknya lik zach bikin bludrek gak?

      Delete
    7. ludruknya mas zach bikin yang komentar semakin banyak, tuh si petruk belum tampil lagi

      Delete
  4. saatnya mengkritisi pemerintah Indonesia yang sekarang, contoh eyang Cak Durasim :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. saat nya kita beraksi menurut kemampuan kita masing-masing.
      hisup mas joker.

      Delete
  5. Ada beberapa catatan dari tulisan mas Agus ini:
    Betapa ketika jaman penjajahan dulu kebebasan berekspresi sangat dikekang, sehingga seniman yang hanya menyindir sedikit pemerintah haris dipenjara, disiksa dan mati didalamnya. Untuk saat ini kita sudah merdeka dalam berekspresi selama masih dalam koridor yang dibenarkan dan sesuai dengan etika...

    Kedua adalah bukti nyata semangat perjuangan cak durasim, ia bukan seorang militer, namun ia mau berbuat apa saja untuk menentang penjajahan waktu itu, sesuai dengan kemampuannya sebagai seorang senimiman. Pun kita saat ini, hendaknya bisa mewarisi semangat Cak Durasim ini apapun baju yang kita pake saat ini, mau pake seargam loreng ke, seragam polisi ke,seragam PNS ke atau yang lainnya...baju boleh beda namun semangat berkorban untuk orang lain tanpa pamrih itulah yang harus ditanamkan...

    Semoga semangat Cak Durasim masih bisa kita warisi, seperti kokohnya gedung kesenian yang masih diwarisi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar sekali mas, pada jaman dahulu tak jarang seorang seniman yang harus berada dibalik jeruji hanya karena menyalurkan inspirasi dan kritikan mereka melalui sebuah hasil karya

      Delete
    2. saat ini kita sudah bebas berekspresi mari kita gunakan untuk hal yang dapat memberi manfaat pada sesama.

      Delete
    3. sayangnya kita belum sepenuhnya mampu menerima kebebasan itu
      kebanyakan dari kita lebih sudah pinter bersuara namun belum pinter dalam mendengar suara orang lain. bersebrangan sedikit dianggap musuh bukannya penambah wawasan dan wacana.

      yang sudah pinter bersuara pun masih banyak yang terpaku pada tatanan baik dan buruk secara konsep. belum banyak yang mau bicara apa adanya menyesuaikan realita. pencitraan diri dianggap lebih penting daripada bicara jujur

      dan dipercaya atau tidak,inilah kenyataannya...

      Delete
    4. betul sekali mas rawins, mungkin saya juga pernah mengalami hal demikian, terjebak pada baik dan buruk. bukan malah menambah wawasan saya.
      jadi saya harus tetep introspeksi diri.

      Delete
  6. di jawa tengah kesenian semacam ludruk itu namanya ketoprak

    ReplyDelete
    Replies
    1. ketoprak di jakarta malah semacam makanan

      Delete
    2. siapa yang korah korah piringnya mas ?

      Delete
    3. mang yono aja, saya bagian terima uangnya

      Delete
  7. Do'aku untuk Indonesia:

    "Indonesia, Indonesia... merdekalah!"

    ReplyDelete
    Replies
    1. udah lewat kang....pas nya tgl 17 agustus

      Delete
    2. tp nyatanya utk bbrapa hal kita masih belum merdeka, kang, h-heee...

      Delete
    3. biarpun sudah lewat saya masih suka teriak merdeka, apalagi pas habis beol.

      belum merdeka masalah perekonomian kayaknya.

      Delete
  8. kesenian ludruk sekarang jarang sekali nongol ya Mas. seperti mati suri.
    dulu di jember, kesenian ludruk sangat kental sekali dengan masyarakat. kalau ada hajatan pasti hiburanya ludruk, kalau nggak ludruk ya wayang. tapi sekarang kalah saing sama Orkes Melayu dan kendang kempul..hohoho

    maaf nggak ngomentari cak durasim, malah bahas ludruk...xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe...saya juga menyayangkan kesenian ludruk ini akan hilang, generasi terakhir adalah grup KAARTOLO yang sampai sekarang banyak fansnya, termasuk bapak mertua saya. hehehe

      Delete
    2. mmg ludruk konvensional udh gak jamannya lagi, psti akan kalah saing dg hiburan2 masa kini...

      perlu adanya anak2 muda kreatif yg mampu memberi "template" modern, sehingga kesenian2 tsb bisa dinikmati oleh semua usia.

      Delete
    3. saya pernah berkunjung ke gedung THR surabaya belakang mall hitech, mengenaskan sekali keadaannya mas, kudu nangis.

      Delete
  9. helooooooooooooooooooo mas aguuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuusss apa kabarnya ?
    wah masih exist yah . hehhhe ,.

    hmm aduh aku payah nih berarti, cz sebelumnya belum prnah kenal tokoh cak durasim :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah kami semua sehat wal'afiat berkat doa dari rekan rekan juga,
      cak agus pacing tepatnya mas, hehehehe

      Delete
  10. hebat yah cak durasim...

    kalau kesenian ludruk yang bagai mana yah mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalau kesenian ludruk ya sama seperti ketoprak, cuma ada saat jula juli, nngidung, mbanyol dan lakon utama

      Delete
  11. ternyata mas agus ahli sejarah juga yah... sebagai bonusnya sayah klik deh iklannya.... mantab deh mas agus...

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya tidak ahli sejarah mang, itu cuma ngawur saja kok.
      terima kasih mang, jangan sering sering ya.
      hehehehe

      Delete
  12. wkwkwk postingannya ada ada aja ya

    ReplyDelete
  13. jadi jalur ceritanya eta teh kumaha nya kang, saya masih pabaliut.. he...he..., yang penting hadir deh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. aya aya wae kang zigzoor , nyong ra ngerteh basane kuwe

      Delete
  14. karena menyampaikan pendapat akhirnya cak durasim meninggal dalam siksaan di penjara...sepertinya hal ini juga dilakukan oleh pemerintah kita....mencoba membungkam suara-suara yang tidak sependapat dengan pemerintah....
    btw-jangan lupa ikutan GA ku ya... di http://hariyantowijoyo.blogspot.com/2013/10/masuk-neraka-siapa-takut.html salam :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih atas undangannya kang har, saya tidak ikut GA nya kang, lagi males nulis nih. hehehe

      Delete
  15. wih temanya kali ini berat nih mas.. bawa bawa pemerintah dan para pengembang perusahaan.. hehehe...

    hahaha bener mas.. kost-kostan memang kayak omah doro.. datang dan pergi penghuninya.. apalagi kalau kostan anak sekolah.. hmm bebas kluar masuk deh... hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayo mas nady ngekos yang campuran ya, ada cowok ceweknya
      haaayooo

      Delete
  16. Seniman yang patut di ancungin jempol. Jarang sekali kita menemukan seniman yang kritis seperti beliau. Sekarang lebih banyak seniman yang kritis karena belum dapat jatah kursi empuk, jika sudah kebagian lupa deh dengan sikap kritisnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih ada satu lagi, tidak terkenal seperti cak durasim, namanya cak markeso.

      Delete
  17. Dulu memang ekspresi perjuangan bukan hanya memegang senjata, memberikan semangat juaang dan mengkritik pemerintahan penjajah adalah termasuk bentuk perjuangan seseorang yang cinta tanah air

    ReplyDelete
    Replies
    1. sekarang macam macam bentuk menghargai perjuangan beliau, termasuk melestarikan kebudayaannya.

      Delete
  18. Pagupon Omahe doro, melok nippon tambah soro suatu kata yang mengandung makna yg sangat dalam pak, memang realitanya sekarang memang begitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe...pagupon itu sempit ya mbak, hidup cuma bisa bergerak mirin ke kiri dan kenanan. hehehe
      sempit

      Delete
  19. Thanks ya sob udah share , blog ini sangat bermanfaat sekali .............




    agen tiket murah

    ReplyDelete

Silakan Tinggalkan Komentar Sesuka Hati, Bebas
Link Hidup ? Jangan Deh