Home » » Kesadaran Membeli Tiket Kereta Api

Kesadaran Membeli Tiket Kereta Api

Dalam dunia perkeretaapian, khususnya kereta api ekonomi lokal seperti KRD, Penataran, Rapih Dhoho, Lokal Cibatu, KRL dan KRD Bandung Raya sudah jamak yang namanya "bayar diatas". Bayar diatas dilakukan oleh penumpang yang tidak bertiket dengan membayar kondektur atau petugas kontrol tiket di dalam kereta api. Besarnya "upeti" biasanya setengah dari harga tiket resmi KAI, kalau harga yang tertera di tiket sebesar 4000 (empat ribu rupiah) maka para penumpang gelap ini membayar 2000 (dua ribu rupiah).

tiket KRD Kertosono

Contoh kasus yang sering saya alami tiap hari selama 2 tahun menggunakan kereta api KRD banyaknya penumpang yang tidak bertiket dan mendapat tempat duduk serta tidur dengan tenang plus ngorok. Sebagian dari mereka naik di stasiun pemberangkatan lebih awal dari stasiun mojokerto (saya naik di mojokerto) diantaranya Kertosono, Sembung, Jombang, Peterongan, Sumobito, Curahmalang dan Mojokerto. Meskipun harga tiket KRD sangat terjangkau, 2000 (dua ribu rupiah) mereka masih tidak mau membeli tiket dan senang membayar 1000 (seribu rupiah) kepada kondekur. Saat ada pemeriksaan tiket oleh kondektur mereka bangun dan tanpa malu membayar 1000 didepan orang yang mempunyai tiket dan dalam keadaan berdiri. Sungguh moral yang tidak baik. Hal ini berlaku pula untuk kereta api rapih dhoho yang biasanya untuk pulang kerja. Di Stasiun Wonokromo, Sepanjang, Krian ini banyak sekali penumpang gelap walaupun pihak stasiun sudah menjaganya.

Mereka yang naik kereta api tanpa tiket berasal dari stasiun yang tidak terlalu ketat, tidak ada penjagaan serta tidak adanya pagar pembatas stasiun dengan jalan raya. Saya sendiri pernah merasakan beberapa hari tidak membeli tiket KRD untuk berangkat kerja. Jalannya cukup mudah, tinggal muter stasiun mojokerto yang tidak di pagari dan langsun bisa menunggu kereta di peron stasiun. Cukup menggoda memang, sebenarnya saya tidak sreg dengan apa yang saya lakukan. Niat saya menghemat uang 1000 x 10 perjalanan, katakanlah saya menyisihkan10 ribu dalam satu bulan jika saya tidak membeli tiket akan tetapi yang saya dapati malah lain, ban GL PRO saya kempes depan belakang atau bocor saat saya parkir. Menambalkan ban ongkosnya 14.000 jadi saya rugi 4000. Niat nya ingin menyisihkan uang, akan tetapi keadaan berkata lain. Saat itulah saya tidak pernah lagi tidak membeli tiket kereta api untuk bepergian.
Saya heran dengan orang-orang, baik yang muda maupun yang sudah tua, kebanyakan sih sudah tuwa naik kereta KRD tanpa tiket. Baiklah mari kita berhitung goblok-goblokan (istilah goblok-goblokan adalah perhitungan sederhana). Penumpang KRD ini kebanyakan para pekerja, baik berdagang, tukang bangunan, sopir, kernet, tukang becak, penjaga toko, pns, dosen, pegawai RSUD dan pekerjaan yang intinya menghasilkan uang. Mereka dan termasuk saya butuh sarana transportasi untuk menuju Surabaya dan sekitarnya. Untuk naik bis perlu mengeluarkan uang 5000 (mojokerto-Surabaya), 8000 (Jombang-Surabaya), 11.000 (Kertosono Surabaya). Belum lagi di terminal menuju ke kota harus naik bis kota dengan biaya 5000 sekali perjalanan. Perjalanan sehari harus di kalikan dua karena Pergi dan Pulang. Sedangkan penghasilan per hari yang diterima rata-rata 50.000-60.000 dikurangi dengan biaya perjalanan. Kasarnya saya yang naik dari mojokerto akan mengantongi penghasilan bersih 30.000 per hari, jika saya naik bis.
Bandingkan dengan naik kereta api. Dengan KRD 2000 dan pulangnya KA Rapih Dhoho 4000. Hanya dengan 6000 perhari sudah bisa Pergi dan pulang kerja tiap hari. Selisih banyak jika menggunakan transportasi bis.

Sebenarnya penumpang yang tidak bertiket ini tidak akan berani naik kereta api jika aturannya ketat. Kondektur yang permisif alias mau menerima uang yang menjadikan KRD Penuh sesak. Tentu saja semua orang senang di beri uang, 1000 di kalikan 300 orang sudah cukup untuk memenuhi kantong para kondektur. Sehari atau pagi hari belum siang sudah mendapat 300 ribu, belum lagi gaji tetap dari perusahaan. Pasti tergiur. Lagi-lagi ini masalah moral, baik petugas maupun penumpangnya.
Akan tetapi dua bulan terakhir ini, kondektur yang sering menerima uang sudah di mutasi di seluruh wilayah kerja PT KAI. Sekarang yang bertugas sebagai kondektur masih muda, mungkin rekrutan baru dan mereka tidak mau menerima uang "bayar diatas" tetapi juga tidak ada tindakan menrunkan penumpang tersebut. Para penumpang yang tidak bertiket kok ya malah kegirangan, berarti mereka naik gratis bisa tidur ngorok pula. Saya cuma bisa berdoa, semoga saya kuat dan tidak tergiur untuk ikut tidak membeli tiket. Dengan dimudahkan begitu saja masih tidak mau tertib dan sadar membeli tiket kereta api, alasan yang sering saya dengar "iya situ pegawai negeri, iya situ punya gaji tetap" ah sudahlah, musuk orang seperti ini memang sulit diatur. Saya sendiri tidak bergeming dan kepincut untuk tidak membeli tiket, saya sudah menyadarinya sejak dulu akan konsekuensinya. Saya mengusahakan menjaga kesucian rejeki dan jalan menmpuh rejeki untuk menghidupi keluarga saya. Kalau orang tidak bertiket tersebut entah apa orientasinya, semoga mereka sadar.

Tulisan ini terinspirasi tadi pagi (20/1/2014) saat Tim pengawas dan penertiban penumpang tak bertiket menginspeksi kereta api KRD. Dan banyak yang diturunkan di stasiun yang jauh dari jalan raya. Efeknya KRD menjadi longgar yang biasanya hari senin selalu sesak bahkan menapakkan kaki saja suah, apalagi bergerak akibat ulah penumpang tak bertiket. Semoga mereka sadar dan berpikir kedepan, alangkah ruginya kalau KRD di bumi hanguskan, atau hanya berangkat di mulai dari stasiun mojokerto. Tulisan ini bukan bermaksud menyerang pihak tertentu, hanya sebuah unek-unek. Bisanya juga menyampaikan di blog, mau komplain tidak tau harus kemana. Melaporkan pun nanti dikira sok jadi pahlawan. Begitulah.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan Tinggalkan Komentar Sesuka Hati, Bebas
Link Hidup ? Jangan Deh