Seperti pada ramadhan terdahulu, menengok kebelakang beberapa tahun silam aktivitas keagamaan pada bulan suci ramadhan akan tampak semarak. Terlebih khusus lagi acara televisi menyuguhkan tayangan ritual religius mulai dari sahur hingga sahur kembali. Suguhan sinetron, ceramah agama dengan format religius menjadi tontonan sehari hari, bahkan iklan pun di format dengan nilai ketuhanan. Dengan memanfaatkan momen bulan ramadhan, para pemilik modal kelas kakap memanfaatkannya untuk mendapat keuntungan iklan dan rating acara televisi. Celakanya acara yang di tayangkan berupa lelucon dan dagelan yang jauh dari nilai dakwah islam. Pasti semua sudah mengetahui acara yang sebelum ramadhan selalu menampilkan paha mulus vulgar, kini di format dengan religius dengan tidak menyentuh esensi dari ramadhan. Pakaiannya religius nilai dakwahnya tidak ada, bahkan ada yang menggunjing seperti pada acara infotainment.
Celakanya lagi seiring dengan banyaknya acara televisi yang mendadak religius tadi, masih ada tindak kriminal di berbagai daerah. Apakah ini bisa di katakan gejala materialisme agama, semua di setting layaknya baju agamis tapi kelakuan tetap begitu saja. Tidak usah jauh kemana-mana, dalam diri saya pun tidak sepenuhnya bisa menjalankan syariat islam secara benar. Setidaknya saya tidak menampakkan diri bahwa saya ini religius atau agamis tapi berusaha menjalankan ajaran islam dengan benar.
Semoga kita di jauhkan dari penyakit hati khususnya riak besar dan kecil sehingga tetap fokus dan konsentrasi dalam mengais berkah bulan ramadhan. Semoga puasa kita sempurna dengan membawa amalan baik sebagai bekal mengarungi kehidupan di bulan berikutnya selain ramadhan.

